Oleh: Surti Wardani
Mengapa banyak orang hari ini justru merasa lebih menjadi dirinya sendiri di akun kedua dibanding akun utama media sosial mereka? Fenomena second account tampaknya bukan lagi sekadar tren digital, melainkan cermin kegelisahan pengguna media sosial dalam menghadapi tekanan pencitraan di ruang virtual.
Di platform seperti Instagram, TikTok, maupun X (Twitter), banyak pengguna memiliki dua wajah digital. Akun utama dipenuhi unggahan yang rapi, estetik, produktif, dan “layak dilihat publik”. Sementara itu, akun kedua menjadi ruang pelarian: tempat mengeluh, meluapkan emosi, mengunggah foto tanpa filter, hingga menampilkan sisi diri yang lebih spontan. Ironisnya, kejujuran justru disimpan di ruang tersembunyi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah bergeser dari ruang komunikasi menjadi ruang pencitraan. Pengguna tidak lagi sekadar berbagi kehidupan, tetapi sibuk mengurasi identitas digitalnya sendiri. Apa yang ditampilkan sering kali bukan realitas, melainkan versi diri yang telah dipilih agar sesuai dengan ekspektasi sosial.
Dalam perspektif dramaturgi Erving Goffman, kehidupan sosial dianalogikan sebagai panggung pertunjukan. Individu akan menampilkan citra terbaik di panggung depan (front stage) dan menyimpan sisi personal di belakang panggung (back stage). Media sosial memperlihatkan praktik itu secara nyata. Akun utama menjadi panggung depan tempat seseorang menjaga reputasi digitalnya, sedangkan second account menjadi ruang belakang untuk melepas tekanan citra yang harus terus dipertahankan.
Scientific Management: Saat Manusia Dipaksa Jadi Mesin
Bagaimana Manajemen Mengubah Cara Hidup Kita?
Fenomena ini juga dapat dipahami melalui tradisi
sosiopsikologis dalam teori komunikasi yang dipetakan oleh Robert T. Craig.
Tradisi sosiopsikologis melihat komunikasi sebagai proses yang dipengaruhi oleh
persepsi, emosi, dan respons individu terhadap lingkungannya. Dalam konteks
media sosial, pengguna cenderung membentuk identitas digital berdasarkan
bagaimana mereka ingin dipersepsikan orang lain. Keinginan memperoleh
penerimaan sosial, validasi, dan pengakuan membuat banyak individu secara tidak
sadar menyesuaikan cara berkomunikasi maupun menampilkan dirinya di ruang
digital. Akun kedua kemudian muncul sebagai respons psikologis terhadap tekanan
sosial tersebut—sebuah ruang alternatif ketika identitas pada akun utama terasa
terlalu “dikendalikan” oleh ekspektasi publik.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada generasi muda. Banyak pengguna media sosial dari berbagai usia secara sadar membangun identitas tertentu di ruang digital. Ada yang ingin terlihat sukses secara finansial, harmonis dalam keluarga, produktif dalam pekerjaan, atau selalu bahagia dalam kehidupannya. Media sosial perlahan mendorong individu menjadi “kurator” bagi dirinya sendiri. Kehidupan dipilih, disaring, lalu ditampilkan berdasarkan apa yang dianggap pantas memperoleh pengakuan publik.
Masalahnya, semakin kuat dorongan untuk tampil ideal, semakin besar pula jarak antara identitas digital dan realitas diri seseorang. Jumlah likes, komentar, pengikut, hingga budaya validasi sosial perlahan memengaruhi cara individu menilai harga dirinya. Tidak sedikit orang akhirnya merasa harus selalu terlihat baik-baik saja, meskipun secara emosional sedang lelah atau tertekan. Kesedihan disembunyikan, kegagalan ditutupi, sementara kebahagiaan dipertontonkan sebagai standar normal kehidupan.
Krisis autentisitas ini tidak berhenti pada budaya flexing semata. Dalam beberapa kasus, dorongan untuk tampil sesuai ekspektasi publik bahkan melahirkan fenomena catfish, yaitu praktik membangun identitas palsu atau menampilkan persona yang berbeda jauh dari realitas diri demi memperoleh perhatian, pengakuan, atau relasi sosial tertentu. Fenomena catfish memperlihatkan bagaimana media sosial dapat mendorong individu merasa tidak cukup percaya diri dengan identitas aslinya. Ketika citra digital dianggap lebih penting daripada kejujuran identitas, maka relasi sosial di ruang virtual pun menjadi rentan terhadap manipulasi dan hilangnya kepercayaan.
Implikasinya tidak sederhana. Krisis autentisitas dapat memengaruhi kesehatan psikologis pengguna media sosial. Individu yang terus-menerus mempertahankan citra ideal berpotensi mengalami kelelahan emosional, kecemasan sosial, hingga krisis kepercayaan diri karena hidup dalam tekanan untuk selalu terlihat “sempurna”. Di sisi lain, audiens media sosial juga terjebak dalam budaya perbandingan sosial yang tidak realistis. Mereka membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan digital orang lain yang sebenarnya telah melalui proses kurasi. Akibatnya, media sosial tidak lagi menjadi ruang komunikasi yang sehat, tetapi berubah menjadi arena kompetisi citra dan validasi sosial.
Ironisnya, di tengah dunia digital yang semakin terbuka, manusia justru semakin sulit menunjukkan dirinya secara utuh. Second account akhirnya hadir sebagai bentuk kompromi. Akun kedua menjadi ruang aman bagi pengguna media sosial untuk berbicara lebih jujur tanpa tekanan publik. Namun, keberadaan akun kedua sekaligus memperlihatkan paradoks media sosial hari ini: manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin takut tampil autentik di ruang publik virtual.
Tentu, memiliki second account bukan sesuatu yang salah. Setiap individu membutuhkan ruang privat untuk mengekspresikan emosi dan pikirannya. Persoalannya terletak pada budaya media sosial yang secara tidak langsung menuntut individu terus tampil sempurna. Ketika seseorang merasa lebih bebas menjadi dirinya sendiri di akun rahasia dibanding akun utamanya, ada sesuatu yang sedang bermasalah dalam budaya komunikasi digital kita.
Karena itu, masyarakat perlu mulai menyadari
bahwa media sosial bukan representasi utuh kehidupan manusia. Apa yang terlihat
di layar sering kali hanyalah hasil kurasi, bukan kenyataan sepenuhnya. Sebab
pada akhirnya, masalah terbesar pengguna media sosial hari ini mungkin bukan
sekadar kecanduan teknologi, melainkan ketakutan untuk tampil sebagai diri
sendiri di hadapan publik digital.