Oleh:
Muhamad
Rizky Septian (251010503429)
Muhammad Sulton Johar (251010501708)
Nadya Aqila Khalisah (251010501735)
Salsabila Zahwa Pradita
(251010501724)
Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajamen Program Sarjana.
Apa Itu Organisasi?
Organisasi itu adalah sebuah sistem
yang terdiri dari dua orang atau lebih yang kerja bareng buat mencapai tujuan
tertentu. Di dalam organisasi ada interaksi sosial yang udah terstruktur,
lengkap dengan pembagian wewenang, sistem komunikasi, dan juga reward atau
insentif. Biasanya organisasi punya struktur hierarki, ada yang levelnya banyak
banget, ada juga yang lebih simple dan santai. Organisasi juga punya status
hukum resmi dan diakui pemerintah. Contohnya kayak perusahaan, rumah sakit,
kampus, toko retail, sampai Lembaga pemasyarakatan.
Organizational Behavior adalah suatu bidang studi yang menyelidiki pengaruh individuals, groups, dan structure terhadap perilaku di dalam organisasi, dengan tujuan menerapkan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan organizational effectiveness atau efektivitas organisasi. Bidang ini merupakan studi tentang perilaku manusia (human behavior), sikap (attitudes), dan kinerja (performance) dalam suatu lingkungan organisasi (organizational setting).
Management and Organizational Behavior memanfaatkan teori, metode, dan prinsip dari berbagai disiplin ilmu untuk memahami persepsi individu (individual perception), nilai-nilai (values), kemampuan belajar (learning capacities), serta tindakan orang-orang (actions of people) yang berada di dalam suatu organisasi. Dengan memahami berbagai aspek tersebut, organisasi dapat mengelola sumber daya manusia secara lebih efektif dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sekarang coba pikirin mata kuliah yang lagi kamu ambil. Setiap kelas pasti punya dosen yang beda, mahasiswa yang beda, dan suasana atau struktur yang beda juga. Cara dosen berinteraksi sama mahasiswa pun nggak selalu sama di tiap kelas. Jadi, tanpa sadar setiap kelas ngenalin kamu ke jenis organisasi, struktur, dan culture yang berbeda-beda. Kalau dipikir-pikir lagi, pasti ada kelas yang bikin kamu enjoy banget, tapi ada juga yang bikin bete. Kadang kamu suka sama cara dosennya nge-manage kelas, kadang juga ada yang annoying. Nah, tujuan dari pembahasan ini adalah supaya kamu bisa lebih paham tentang fenomena-fenomena kayak gitu yang sering terjadi dalam organisasi.
AMERIKA: DARI KOLONI JADI NEGARA
Pentingnya Organizational Behavior
Pentingnya
organizational behavior sebenarnya udah cukup kelihatan, tapi
tetap perlu dibahas lebih jelas lagi. Hampir semua orang lahir, belajar, dan
menjalani hidup di dalam organisasi kita dapetin banyak kebutuhan hidup dari
organisasi, dan bahkan saat meninggal pun kita masih jadi bagian dari
organisasi tertentu. Banyak aktivitas hidup kita juga diatur oleh berbagai
organisasi yang ada dalam pemerintahan. Sebagian besar orang dewasa
menghabiskan banyak waktunya buat kerja di organisasi. Karena organisasi punya
pengaruh sebesar itu dalam hidup kita, wajar banget kalau kita perlu ngerti
gimana dan kenapa organisasi bisa berjalan seperti sekarang.
Di era yang penuh tantangan ini, ilmu yang dikenal sebagai Perilaku Organisasi menawarkan banyak wawasan yang sangat berharga. Perilaku Organisasi, yang sering disingkat PO (atau OB – Organizational Behavior), adalah studi tentang perilaku manusia dalam organisasi. Bidang ilmu ini berfokus pada pemahaman perilaku individu dan kelompok, proses hubungan antarindividu, serta dinamika yang terjadi di dalam organisasi. Mempelajari Perilaku Organisasi dapat membantu seseorang mengembangkan potensi diri dan meningkatkan peluang keberhasilan karier di lingkungan kerja yang dinamis, terus berubah, dan semakin kompleks, baik saat ini maupun di masa yang akan datang.
Dalam hubungan kita dengan organisasi, kita bisa punya banyak peran atau role. Kadang kita jadi konsumen, karyawan, pemasok, pesaing, pemilik bisnis, atau investor. Nah, karena sebagian besar pembaca buku ini adalah calon manajer atau sudah jadi manajer, pembahasannya bakal fokus dari sudut pandang manajemen. Mempelajari organizational behavior bisa membantu banget buat memahami faktor-faktor yang memengaruhi cara seorang manajer mengelola organisasi. Bidang ini mencoba menjelaskan kompleksnya perilaku manusia dalam organisasi sekaligus membahas peluang, masalah, tantangan, dan isu yang muncul di dalamnya. Nilai penting dari organizational behavior adalah karena bidang ini membantu kita memahami bagian penting dari pekerjaan seorang manajer, terutama yang berkaitan dengan sisi manusia dalam manajemen. Di sini manusia bisa dilihat sebagai bagian dari organisasi, sebagai sumber daya, dan juga sebagai individu yang punya perasaan serta kebutuhan sendiri.
Strategi Organisasi dan Perilaku Organisasi
Dalam
organisasi, strategy tidak akan berjalan tanpa adanya peran manusia, terutama
dalam kelompok kerja. Organisasi berfungsi sebagai alat untuk implement
strategy, dan proses ini terjadi melalui kerja sama antar individu dalam
team. Oleh karena itu, group behavior menjadi hal yang sangat penting karena
menentukan apakah tujuan organisasi bisa tercapai atau tidak. Untuk mendukung
hal tersebut, organisasi mengelompokkan individu ke dalam team agar pekerjaan
lebih terarah dan mudah dikoordinasikan. Selain itu, organisasi juga
menyediakan management systems, work processes, dan policies
sebagai pedoman agar setiap anggota memahami roles and responsibilities
mereka. Dengan adanya sistem yang jelas, aktivitas kelompok menjadi lebih
terstruktur dan konsisten.
Secara keseluruhan, keberhasilan organisasi sangat bergantung pada bagaimana team bekerja. Jika anggota mampu bekerja sama, memiliki good communication, dan menjalankan perannya dengan baik, maka strategy dapat diimplementasikan secara efektif. That’s why group behavior really matters today, karena menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan organisasi di tengah perubahan yang cepat.
Pelaksanaan Strategi dan Organisasi
Strategy implementation adalah tahap di mana strategi yang sudah
direncanakan diubah menjadi action nyata dalam kegiatan organisasi. Pada tahap
ini, organisasi berperan sebagai alat utama untuk memastikan semua rencana bisa
dijalankan dengan baik melalui management systems, work processes, dan
organizational policies yang saling terhubung. Proses ini tidak hanya
berjalan secara top-down, tetapi juga bottom-up karena
keterlibatan karyawan sangat penting dalam pelaksanaannya. Namun, dalam praktiknya
sering muncul berbagai challenges seperti resistance to change dan
keterbatasan sumber daya, sehingga diperlukan performance indicators dan
target yang jelas agar implementasi tetap terarah. Intinya, keberhasilan
strategi sangat bergantung pada bagaimana organisasi mengelola people, system,
dan process secara selaras.
Organisasi, Kebijakan, dan Proses Pembuatan Kebijakan
Dalam
sebuah organisasi, policy atau kebijakan memiliki peran penting sebagai
pedoman dalam pengambilan keputusan dan tindakan sehari-hari. Secara sederhana,
policy bisa dipahami sebagai “guidelines” yang membantu karyawan dan
manajer dalam menghadapi berbagai situasi kerja agar tetap sesuai dengan tujuan
organisasi. Policy-making process sendiri merupakan proses bagaimana
kebijakan tersebut dibuat, dikembangkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan
organisasi yang terus berubah. Kebijakan yang baik biasanya jelas, konsisten,
dan mudah dipahami sehingga dapat mengarahkan perilaku kerja secara efektif.
Selain itu, policy juga membantu menjaga keselarasan antara strategi dan
operasional, sehingga setiap tindakan yang diambil tetap mendukung pencapaian
tujuan strategis. Dengan adanya kebijakan yang tepat dan proses pembuatannya
yang sistematis, organisasi dapat meningkatkan koordinasi, mengurangi
kesalahan, serta menciptakan kerja yang lebih terarah dan efisien.
Perilaku,
Kepribadian, dan Nilai-Nilai Individu
Perilaku
individu dipengaruhi oleh motivasi, kemampuan, persepsi peran, dan faktor
situasional (MARS). Motivasi terdiri dari kekuatan internal yang
memengaruhi arah, intensitas, dan ketekunan seseorang dalam memilih perilaku
secara sukarela. Kemampuan mencakup bakat alami serta keterampilan yang
dipelajari yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas dengan berhasil.
Persepsi peran merupakan keyakinan seseorang mengenai perilaku yang dianggap
tepat atau diperlukan dalam situasi tertentu. Faktor situasional adalah kondisi
lingkungan yang dapat membatasi atau mendukung perilaku serta kinerja karyawan.
Kepribadian mengacu pada pola pemikiran, emosi, dan perilaku yang relatif menetap yang menjadi ciri khas seseorang, beserta proses psikologis yang mendasarinya. Sebagian besar ahli saat ini sepakat bahwa kepribadian dibentuk oleh kombinasi faktor bawaan dan lingkungan. Sebagian besar sifat kepribadian dijelaskan melalui model lima faktor kepribadian yang meliputi ketelitian, keramahan, neurotisisme, keterbukaan terhadap pengalaman, dan ekstroversi. Kelompok sifat lainnya yang diukur menggunakan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) menggambarkan bagaimana seseorang lebih suka menerima dan menilai informasi. Di antara berbagai sifat tersebut, ketelitian dan stabilitas emosional (tingkat neurotisisme yang rendah) merupakan karakteristik yang paling baik dalam memprediksi kinerja individu pada hampir semua jenis pekerjaan. Tiga dimensi kepribadian lainnya lebih banyak memprediksi jenis perilaku dan kinerja karyawan yang lebih spesifik.
Konsep diri mengacu pada keyakinan dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri memiliki tiga dimensi struktural, yaitu kompleksitas, konsistensi, dan kejelasan. Secara alami, manusia termotivasi untuk meningkatkan dan melindungi konsep dirinya, yang disebut sebagai peningkatan diri. Pada saat yang sama, manusia juga terdorong untuk memverifikasi dan mempertahankan konsep diri yang telah dimilikinya. Evaluasi diri, yang merupakan aspek penting dari konsep diri, terdiri atas harga diri, efikasi diri, dan pusat kendali. Harga diri adalah sejauh mana seseorang menyukai, menghormati, dan merasa puas terhadap dirinya sendiri. Efikasi diri mengacu pada keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kemampuan, motivasi, persepsi peran yang tepat, serta situasi yang mendukung untuk menyelesaikan suatu tugas dengan sukses. Efikasi diri umum merupakan persepsi seseorang terhadap kompetensinya untuk berhasil dalam berbagai situasi. Pusat kendali didefinisikan sebagai keyakinan umum seseorang mengenai sejauh mana ia memiliki kendali atas berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya.
Konsep diri terdiri atas identitas pribadi dan identitas sosial. Teori identitas sosial menjelaskan bagaimana individu mendefinisikan dirinya berdasarkan kelompok-kelompok yang mereka ikuti atau yang memiliki ikatan emosional dengan mereka. Nilai adalah keyakinan evaluatif yang relatif stabil yang menjadi pedoman dalam menentukan preferensi terhadap hasil atau tindakan dalam berbagai situasi. Seseorang menyusun nilai-nilai tersebut ke dalam suatu hierarki yang disebut sistem nilai. Nilai yang dinyatakan, yaitu nilai yang diucapkan dan diyakini sebagai pedoman hidup, sering kali berbeda dengan nilai yang diwujudkan, yaitu nilai yang benar-benar tercermin dalam tindakan sehari-hari.
Nilai-nilai telah dikelompokkan ke dalam sepuluh kelompok utama yang tersusun dalam sebuah lingkaran nilai. Kesesuaian nilai mengacu pada tingkat kesamaan sistem nilai antara dua pihak atau entitas. Lima nilai yang sering berbeda di berbagai budaya adalah individualisme, kolektivisme, jarak kekuasaan, penghindaran ketidakpastian, dan orientasi prestasi atau kepedulian. Individualisme menekankan kepentingan serta pencapaian individu, sedangkan kolektivisme lebih menekankan kepentingan kelompok dan kerja sama. Jarak kekuasaan menunjukkan tingkat penerimaan masyarakat terhadap ketimpangan kekuasaan. Penghindaran ketidakpastian menggambarkan sejauh mana masyarakat merasa tidak nyaman terhadap situasi yang tidak pasti. Orientasi prestasi atau kepedulian menunjukkan apakah suatu budaya lebih menekankan pencapaian atau hubungan interpersonal dan kesejahteraan orang lain.
Tiga nilai yang menjadi pedoman dalam perilaku etis adalah utilitarianisme, hak individu, dan keadilan distributif. Utilitarianisme menekankan tindakan yang menghasilkan manfaat terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Hak individu menekankan penghormatan terhadap kebebasan dan hak setiap orang. Keadilan distributif berfokus pada pembagian manfaat dan beban secara adil. Perilaku etis dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu intensitas moral suatu masalah, sensitivitas etis individu dalam mengenali dan memahami dilema etika, serta faktor situasional yang dapat menyebabkan seseorang menyimpang dari nilai moral yang dimilikinya. Perusahaan dapat meningkatkan perilaku etis melalui penerapan kode etik, pelatihan etika, penyediaan saluran pelaporan pelanggaran etika, serta keteladanan yang ditunjukkan oleh para pemimpin organisasi.
Pengantar Perilaku Organisasi Pendekatan Berbasis Bukti
Setiap
zaman selalu menghadapi tantangan yang dianggap berat dan kompleks. Namun,
bahkan generasi-generasi sebelumnya mungkin akan sepakat bahwa mengelola
organisasi pada masa kini jauh lebih sulit. Jika ditanyakan kepada profesor
manajemen, praktisi, maupun mahasiswa mengenai tantangan terbesar dalam
lingkungan organisasi saat ini, jawabannya cenderung serupa. Kondisi ekonomi
yang tidak stabil dan situasi geopolitik yang penuh risiko menjadi perhatian
utama banyak pihak. Pada tingkat organisasi, isu-isu seperti persaingan global,
keberagaman tenaga kerja, serta berbagai permasalahan dan dilema etika menjadi
tantangan yang paling menonjol.
Tidak dapat dipungkiri bahwa isu-isu tersebut merupakan permasalahan utama yang dihadapi organisasi modern dan karena itu mendapatkan perhatian besar dalam kajian perilaku organisasi. Namun demikian, asumsi dasar dalam bidang perilaku organisasi, termasuk dalam pembahasan ini, adalah bahwa tantangan terbesar sekaligus sumber keunggulan kompetitif yang paling penting tetap terletak pada kemampuan mengelola manusia atau sumber daya manusia yang dimiliki organisasi. Tantangan ini telah ada sejak dahulu, masih berlangsung hingga sekarang, dan akan terus menjadi faktor penentu keberhasilan organisasi di masa depan.
Globalisasi, keberagaman, dan etika merupakan dimensi lingkungan yang sangat penting dalam memengaruhi perilaku organisasi. Ketiga aspek tersebut membentuk konteks di mana organisasi beroperasi dan menentukan bagaimana individu maupun kelompok bekerja di dalamnya. Meskipun demikian, faktor manusia tetap menjadi inti dari keberhasilan organisasi.
Hal ini sejalan dengan pandangan Sam Walton, pendiri Walmart dan salah satu orang terkaya di dunia pada masanya. Ketika ditanya mengenai kunci keberhasilan organisasi, ia menjawab dengan sederhana bahwa faktor terpenting adalah manusia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan suatu organisasi pada akhirnya sangat bergantung pada bagaimana organisasi tersebut mengelola, mengembangkan, dan memberdayakan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Dengan kata lain, teknologi, strategi, maupun sumber daya lainnya tidak akan memberikan hasil yang optimal tanpa dukungan sumber daya manusia yang berkualitas dan dikelola secara efektif.
Persepsi, sikap, dan kepribadian
Perception sangat penting karena kita bertindak
berdasarkan cara kita menafsirkan suatu peristiwa. Begitu juga sebaliknya,
terkadang kita tidak mengambil tindakan karena dipengaruhi oleh persepsi yang
kita miliki. Oleh karena itu, ketika menghadapi peristiwa yang sama, setiap
orang dapat melihat dan memahaminya secara berbeda. Seperti ungkapan “beauty
is in the eye of the beholder”, persepsi juga bergantung pada sudut pandang
masing-masing individu. Namun, hal ini bukan berarti persepsi terlalu subjektif
sehingga tidak perlu dipelajari. Sebaliknya, persepsi merupakan dasar yang
sangat penting dalam behavior management atau pengelolaan perilaku yang
efektif.
Manusia menggunakan five senses (lima indera) untuk mengalami dan memahami lingkungannya, yaitu penglihatan, sentuhan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman. Proses mengatur serta memahami informasi yang diterima dari lingkungan tersebut disebut perception. Persepsi merupakan suatu cognitive process yang membantu individu memilih, mengorganisasi, menyimpan, dan menafsirkan rangsangan sehingga membentuk gambaran dunia yang bermakna dan mudah dipahami (Nicholson, 1998).
Penelitian menunjukkan bahwa managers dan bawahan sering kali memiliki persepsi yang berbeda terhadap peristiwa yang sama. Baik manajer maupun bawahan akan bertindak berdasarkan persepsi mereka masing-masing, terlepas dari apakah persepsi tersebut benar atau tidak. Perbedaan persepsi ini dapat menimbulkan berbagai masalah. Misalnya, manajer merasa bahwa mereka sudah memberikan penghargaan yang cukup atas prestasi karyawan, sementara karyawan merasa kurang dihargai. Akibatnya, manajer mungkin tidak merasa perlu meningkatkan penghargaan kepada karyawan, padahal semangat kerja dan employee morale terus menurun. Jika manajer tidak memahami pentingnya persepsi dalam situasi seperti ini, mereka akan kesulitan mengatasi meningkatnya ketidakpuasan karyawan di dalam organisasi.
Model
untuk Mendiagnosis Perilaku Organisasi
Tugas utama management adalah
membuat organisasi beroperasi secara efektif. Pekerjaan dalam masyarakat
diselesaikan melalui organisasi, dan fungsi management adalah memastikan organisasi mampu
menjalankan pekerjaan tersebut. Namun, membuat organisasi beroperasi secara
efektif bukanlah hal yang mudah. Memahami perilaku satu individu saja sudah
merupakan tantangan; memahami sebuah kelompok yang terdiri dari
individu-individu yang berbeda serta memahami berbagai hubungan di antara
mereka jauh lebih kompleks. Bayangkan kompleksitas yang luar biasa dari sebuah
organisasi besar yang terdiri atas ribuan individu dan ratusan kelompok dengan
berbagai macam hubungan di antara individu dan kelompok tersebut.
Meskipun demikian, organizational behavior harus tetap dikelola di tengah kompleksitas yang sangat besar ini. Pada akhirnya, pekerjaan organisasi diselesaikan oleh manusia, baik secara individu maupun kolektif, secara mandiri maupun melalui kolaborasi dengan teknologi. Oleh karena itu, pengelolaan organizational behavior merupakan bagian yang sangat penting dari tugas management. Tugas ini mencakup kemampuan untuk memahami pola perilaku individu, kelompok, dan organisasi memprediksi respons perilaku yang mungkin muncul akibat berbagai tindakan manajerial serta menggunakan pemahaman dan prediksi tersebut untuk mencapai control terhadap jalannya organisasi.
Sumber:
Champoux, J. E. (2010).
Organizational behavior: Integrating individuals, groups, and organizations.
Routledge. volume 4 2010, 4-6.
Hiriyappa, B. (2009). Organizational behavior. New Age International.
Griffin, R. W. (2017). Organizational behavior: Managing people and organizations. volume 2 2017, 4-6.
Schermerhorn Jr, J. R., Osborn, R. N., Uhl-Bien, M., & Hunt, J. G. (2011). Organizational behavior. john wiley & sons.
McShane, S. L., Von Glinow, M. A. Y., Von Glinow, M., & Mcshane, S. (2010). Organizational behavior. New York, NY: McGraw-Hill Irwin.
Fred, L. (2025). Organizational behavior.
Sims, R. R. (2002). Managing organizational behavior. Bloomsbury Publishing USA.
Nadler, D. A., & Tushman, M. L. (1980). A model for diagnosing organizational behavior. Organizational dynamics, 9(2), 35-51.